ANGKA PADA KONSER DREAM THEATER @ANCOL

Lima sekawan metal progresif Dream Theater telah sukses menggelar konsernya di Indonesia pada Sabtu malam (21/4). Di balik konser rangkaian “A Dramatic Tour of Events” tersebut, ada beberapa angka menarik yang terkait penampilan John Petrucci, dkk di Mata Elang International Stadium (MEIS) Ancol.





1
Sejak meniti karir dari tahun 1985, rilisan kuintet “profesor” musik memang banyak dicerna oleh penikmat musik tertentu. Dengan genre progresif, musik mereka disebut-sebut “sulit”—dan karena itu tidak menjadi arus utama. Satu-satunya karya mereka yang akhirnya dinominasikan ke Grammy adalah nomor “On the Back of Angels” yang akhirnya dipecundangi “White Limo” dari Foo Fighters.

27
Butuh kira-kira 27 tahun agar mereka datang ke Indonesia. Selama kurun waktu tersebut mereka telah merilis 11 album dan 1 EP. Selama hampir tiga dekade itu, mereka tak kunjung mampir ke negeri ini, selalu terlewat. Di Asia mereka rajin mendatangi Jepang dan Singapura. Maka dari itu, konser kemarin sangat ditunggu-tunggu oleh fans berat mereka di sini.


8,4
Adalah total berat dari barang-barang yang dibawa oleh kumpulan asal Boston, AS ini (dalam ton). Ribuan kilo barang ini adalah konsekuensi kompleksnya aksi panggung mereka—mulai dari instrumen yang menjamin canggihnya musik metal progresif, hingga tata suara dan properti panggung yang mereka bawa sendiri. Hasil dari 8,4 ton kargo tersebut adalah panggung megah, lengkap dengan tiga kubus raksasa yang mengantarkan visualisasi indah.

10.000
Adalah kira-kira jumlah penonton yang memadati MEIS untuk menonton John Myung, dkk. Harga tiket normal berkisar dari Rp 4 juta (termahal) hingga Rp 750 ribu (termurah).  Melihat animo penonton Indonesia yang begitu hebat, kita bisa berharap mereka akan datang lagi ke sini. Seperti keyboardist Jordan Rudess mengatakan pada akun twitternya: “Terima kasih Indonesia! Kami sangat senang bermain untuk kalian. (Konser ini adalah) salah satu pengalaman terbaik Dream Theater!!! Penonton yang hebat!”

250.000
Dikutip dari rilis pers sebelum konser, angka ini adalah total daya listrik yang digunakan untuk tata cahaya dan suara konser Dream Theater. 150.000 watt dialokasikan untuk tata cahaya, dan tak jelas apakah tata suara benar mencapai 100.00 watt malam kemarin. Tata cahaya cukup tersaji secara gemilang, namun tata suara agak mengecewakan. Departemen irama, drum dan bass termasuk mengecewakan. Dengan genre metal progresif, salah satu yang dicari penonton adalah kepuasan detail tata suara. Beberapa pernak-pernik seperti frekwensi rendah instrumen John Myung dan bass drum Mike Mangini tak terdengar apik. Dalam satu kesempatan, suara vokal James LaBrie juga sempat mati.

1.247
Penonton di Indonesia beruntung bisa menyaksikan “pemain drum tercepat di dunia”, Mike Mangini. Ia bisa menghajar 1.247 pukulan per menit dengan model pegangan sama atau matched grip, 1.126 pukulan per menit dengan model pegangan traditional atau orthodox grip, dan 1.138 tanpa stik drum! Penampilan gila Mike diwakili oleh solo drum sekitar 6 menit yang memperlihatkan kecepatan tepukan beduk Inggrisnya. Dilihat dari kamera atas, aksi penabuh drum baru Dream Theater ini memang gila! Keahliannya menjadi nilai tambah konser. Siapa yang butuh Mike Portnoy?

9.99 versus 1.99
Salah satu yang patut dipuji dari rangkaian “A Dramatic Tour of Events” dan Dream Theater secara umum adalah adaptasi mereka pada teknologi. Jordan Rudess, sang pemain keyboard, adalah yang paling aktif. Ia menggunakan aplikasi iPad yang ia rancang sendiri, Morphwiz-Play, untuk beberapa lagu. Pada konferensi pers beberapa saat sebelum konser Jordan menyatakan, “Hari ini adalah hari besar juga untuk teknologi dan Morphwiz-Play, karena kami meluncurkan aplikasi tersebut untuk Android.” Di iTunes Store, Morphwiz-Play bisa ditebus dengan harga 9,99 dollar AS. Sementara di Play Store Android, aplikasi canggih ini hanya dihargai 1,99 dollar AS. Pada konser kemarin, Dream Theater menyuguhkan “Pull Me Under” untuk nomor penutup. Ingin menirukan synth pada lagu tersebut? Di aplikasi Morphwiz-Play bahkan disediakan pengaturannya!

1/64
Di album terbaru yang dirilis tahun lalu, Dream Theater cukup bersenang-senang dan memasukkan unsur-unsur musik progresif gila ala mereka. Namun ini bukan hanya sekadar kecepatan nada dan kilatnya perpindahan bagian-bagian lagu. “Ini bukan hanya masalah not 1/64,” kata Jordan Rudess. Mereka juga gila melodi, yang membuat lagu-lagunya harus dapat dicerna telinga. Secara keseluruhan, album ‘A Dramatic Turn of Events’ sangat tepat mewakili Dream Theater pada tahun-tahun ini dan ke depan. “Ini adalah salah satu dari tiga album terbaik Dream Theater,” kata vokalis James LaBrie. Dream Theater membawakan enam lagu dari abum terakhir ini pada konser kemarin.

150
Adalah total durasi konser Dream Theater kemarin (dalam menit). Lagu-lagu berdurasi lama tak lupa dimasukkan, seperti “Breaking All Illusions” (12 menit lebih), “Outcry” (11 menit lebih), serta “Bridges In the Sky” (11 menit lebih). John Petrucci juga berkesempatan menyayat solo gitar sekitar 4 menit pada akhir-akhir repertoar.

45
Merupakan durasi proses lucu di balik lagu balada “Beneath the Surface” (dalam menit). John Petrucci seperti kerasukan dan memainkan lagu ini, sementara anggota yang lain memperhatikannya. Jordan Rudess mengusulkan agar ada melodi synth demi melengkapi lagu tersebut—yang tak digubris John. Ia terus memainkan cikal bakal lagu ini. Setelah 45 menit rampung, mereka kembali berdiskusi dan John baru ingat, “Ya, tadi kau mau memasukkan apa ke lagu itu?” “Beneath the Surface” merupakan dua lagu balada yang dimainkan dalam sesi akustik dalam konser Dream Theater. Satu lagu lain adalah lagu lawas “The Silent Man”. Kedua lagu tersebut ditampilkan dengan sangat indah.

40
Bukan nomor nominasi Grammy yang paling direspon penonton. Bukan pula balada di sesi akustik. Nomor yang paling direspon penonton (dan mungkin paling ditunggu-tunggu) adalah lagu yang diledek masuk sebagai jajaran “Top 40”, yakni “The Spirit Carries On”. Hampir seluruh penonton bernyanyi pada lagu ini.

5
Adalah poin peraturan yang ditulis oleh promotor di belakang tiket Dream Theater. Keseluruhannya adalah larangan membawa: (1) Makanan dan minuman; (2) Kamera video dan foto profesional; (3) Alat perekam audio; (4) Narkoba; dan (5) Senjata tajam atau senjata api. Namun saat saya masuk ke MEIS, penjagaan sangat longgar. Saya melihat banyak orang yang membawa makanan dan minuman ke kelas festival, bahkan kamera DSLR, tablet, dan perekam video. Ini belum termasuk mereka yang “mengganggu” dengan merekam penampilan via ponsel. Di ruangan konser yang jelas tak diperbolehkan merokok itu, asap mengepul dari beberapa penonton. Suasana tak nyaman terus berlangsung karena hampir tak ada pemeriksaan untuk masuk ke kelas-kelas yang sudah ditentukan, sehingga penonton bisa berpindah kelas dengan mudah. Situasi ini menjadi derita tersendiri bagi penonton—terutama mereka yang telah menebus harga tiket yang cukup mahal.
Powered by Blogger.